Menelusuri Lahirnya Cap Go Meh Singkawang, Dimensi Mistis dan Realita Logika

0
1217
Cap Go Meh Singkawang antara mistis dan realita logika. Foto : Putra Singkawang

Singkawang – Perayaan event Cap Go Meh Singkawang merupakan sebuah daya tarik yang luar biasa. Berbalut nuansa mistis dalam sebuah pertunjukan kolosal yang melibatkan lebih dari 20.000 orang, bahkan dikukuhkan sebagai event budaya (religius) terbesar di Asia Tenggara. Pemerintah Indonesia pun mejadikannya sebagai gawai nasional. Para turis manca negara pun berdatangan untuk menyaksikan kejadian langka ini. Sebuah ritual mistis sejarah masa lampau yang ditampilkan dalam peradaban modern, dibarengi atraksi ekstrim di luar nalar dan logika.

Kirab Cap Go Meh tempo dulu. Foto : tionghoa.info

Dikarenakan event Cap Go Meh Singkawang selalu ‘dirayakan’ dalam kemasan yang berbeda, akhirnya menimbulkan banyak pertanyaan. Berikut ini adalah hal menarik yang perlu diketahui :

– Bagaimana asal usul Cap Go Meh Singkawang?

– Apakah Cap Go Meh Singkawang sama dengan Perayaan Cap Go Meh di tempat lain?

– Kenapa atraksi Para Tatung dalam Perayaan Cap Go Meh Singkawang menampilkan hal-hal yang ekstrim?

Cap Go Meh Singkawang tempo dulu. Foto : Putra Singkawang

Tidak banyak catatan sejarah tertulis yang bisa membuktikan secara lengkap mengenai pelaksanaan ritual Cap Go Meh di Singkawang di masa lalu. Hal itu disebabkan warga Tionghoa Kalimantan Barat tidak berani melakukan dokumentasi sebagai arsip sejarah di masa Pemerintahan Orde Baru. Hal-hal seputar pelaksanaan Cap Go Meh Singkawang dan warisannya sampai saat ini, hanya disampaikan secara lisan dan turun temurun. Mungkin saja terdapat beberapa versi, namun informasi berikut ini adalah yang banyak diyakini kebenarannya.

Sejarah pelaksanaan ritual Cap Go Meh di Singkawang bermula dari akulturasi dan interaksi budaya Hakka (sub etnis Tionghoa dari daratan China) yang diundang ke Kalimantan Barat oleh Kesultanan Sambas dan Mempawah untuk menggarap cadangan emas di kawasan Monterado dan sekitarnya. Monterado sendiri berasal dari kata ‘mount’ dan ‘strado’, merujuk sebuah tempat di Meksiko yang bernama Mount Strado yang merupakan pusat penambangan emas terbesar di dunia saat itu. Kandungan emas di kawasan Monterado diyakini tidak kalah dengan hasil dari Mount Strado, Meksiko sehingga Kalimantan Barat menjadi salah satu kawasan terutama di dunia.

Selanjutnya, terjadilah gelombang migrasi warga keturunan Tionghoa ke Kalimantan Barat dan menghasilkan perpaduan budaya antara warga Tionghoa dan warga lokal, yakni Dayak dan Melayu. Hal itu terjadi dalam kurun waktu sekitar ratusan tahun. Kelak, usaha perdagangan emas ini melahirkan sistim perkongsian (usaha dagang) di Kalimantan Barat dan salah satunya adalah perkongsian dagang di Monterado yang dibentuk pada tahun 1772.

Cap Go Meh Singkawang masa kini. Foto : tempo.co

Konon, pada suatu waktu ketika terjadi wabah penyakit cacar, warga menyakini penyebabnya ada gangguan roh halus. Karena belum adanya ilmu kedokteran saat itu, warga perkongsian mengadakan ritual tolak bala (bahasa Khek ; Ta Ciau) bersama penduduk lokal untuk mengatasi penyakit tersebut. Mereka melakukan ritual untuk mengusir  roh-roh jahat tersebut. Hal  itu  dilakukan pada hari ke-15 (dialek Hokkian ; Cap Go) bulan pertama penanggalan Imlek. Terlepas dari masa inkubasi penyakit tersebut (cacar), ritual tersebut diyakini memberikan hasil positif dan wabah tersebut bisa diatasi. Wargapun akhirnya melakukan kegiatan tersebut sebagai tradisi tahunan yang bertahan sampai saat ini.

Ritual itu sendiri dilakukan dengan cara-cara yang ekstrim, yang pada hakekatnya adalah sebuah unjuk kekuatan untuk menakuti para makhluk halus, atau setidaknya kehebatan manusia tidak kalah dengan mereka. Inilah yang diwariskan (dipertontonkan) sampai hari ini.

Itulah Cap Go Meh Singkawang, perpaduan antara masa lalu dan modern, ketersinggungan antara dunia mistis dan peradaban realita dan logika, dan terwariskan untuk kita menyaksikannya. (eds)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here